Mengenang Perjuangan Kiai Harun Ponpes Darunnajah di Masa Jepang-UPZIS LAZISNU MWC BANYUWANGI

Mengenang Perjuangan Kiai Harun Ponpes Darunnajah di Masa Jepang

by Admin - 2020-10-14 09:04:02 102 Views
Mengenang Perjuangan Kiai Harun Ponpes Darunnajah di Masa Jepang

Nama KH Harun Abdullah, bukanlah nama yang asing bagi umat Islam Banyuwangi, Jawa Timur. Reputasi pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Darunnajah, Kelurahan Tukangkayu, Banyuwangi itu, begitu tersohor.

Kealiman Kiai alumni Pesantren Termas, Jombang dan Mekkah ini begitu kondang. Hampir semua Kiai di Banyuwangi dan sekitarnya, yang hidup semasa, pernah mengalap berkah ilmu dari Rois Syuriah PCNU Banyuwangi beberapa periode tersebut.

Selain terkenal dengan kealimannya, Kiai kelahiran Banyuwangi, 28 Agustus 1905 itu, merupakan sosok pejuang yang gigih. Perjuangan fisik maupun pemikiran dilakoni oleh putra keempat dari tujuh bersaudara pasangan Haji Abdullah dan Hajjah Fatmah itu. Perjuangan pemikiran yang dilakukan oleh Kiai Harun yang paling menonjol diantaranya adalah pada masa penjajahan Jepang.

Pada masa itu, Kiai Harun menjadi Kiyai Yuzei Shisatsiun. Jabatan tersebut merupakan jabatan di tingkat kabupaten yang berada di bawah Shumubu, yaitu Kantor Urusan Agama yang bertugas untuk menangani persoalan-persoalan agama semasa pemerintahan Jepang. Di bawah Shumubu terdapat Shumuka yang berada ditingkat keresidenan. Sedangkan untuk yang berada ditingkat kecamatan bernama fuku yuzei shisatsuin (wakil pengawas / pengkhotbah).

Keterlibatan Kiai Harun dalam jabatan tersebut, bukan semata untuk mencari perhatian Jepang. Namun, ini merupakan grand desain yang dirancang oleh kalangan elite Nahdlatul Ulama saat itu. Meski sejak awal Jepang ‘merangkul’ keterlibatan umat Islam di Indonesia, tindakan Jepang tidak melibatkan kelompok Islam tradisionalis yang terwakili oleh NU.

Hal ini ditandai dengan berbagai penangkapan yang dilakukan oleh Jepang kepada elite ulama NU yang menolak Seikerei  kepada Tenno Haika. Atau penghormatan kepada dewa matahari dengan cara membungkukkan badan mengarah pada matahari terbit.

Pada bulan April 1942, Rais Akbar PBNU KH. Hasyim Asyari dan Ketua Hofdstuur NU, KH. Mahfudz Siddiq ditangkap oleh Jepang. Tidak hanya itu, Jepang juga melakukan pembekuan terhadap berbagai aktivitas organisasi keagamaan seperti NU.

Keputusan Jepang yang melakukan penindasan terhadap kalangan umat Islam tersebut, ternyata mendapat respon dari bawah yang menimbulkan gejolak di masyarakat. Menyadari akan kesalahannya, akhirnya Jepang melakukan pembebasan terhadap tokoh-tokoh elit umat Islam tersebut.

Jepang juga mentolelir terhadap penolakan kalangan umat Islam untuk melakukan Seikerei. Selain itu, pada September 1943 Jepang mulai mengizinkan dan mengaktifkan berbagai organisasi keislaman.

Sebulan kemudian, pada Oktober 1943, Jepang mendirikan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).  Keberadaan Masyumi oleh Jepang dianggap sebagai peganti dari MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia) yang sebelumnya ada. Keterlibatan tokoh-tokoh NU di organisasi Masyumi ini mendapatkan tempat yang strategis.

KH Hasyim Asyari ditempatkan sebagai ketua. Sedangkan KH Wahid Hasyim menjabat sebagai wakil ketua yang melakukan kerja teknis harian dari Masyumi itu sendiri. KH Hasyim Asyari juga dipercaya oleh Jepang untuk menjadi Shumubucho – ketua Shumubu -  yang sebelumnya dijabat oleh Hosein Djajadiningrat.

Keterlibatan tokoh-tokoh NU dan pesantren di dalam kepemerintahan Jepang ini, bukan berarti telah terbeli. Hal ini, sebagaimana pengakuan KH Saifuddin Zuhri, merupakan “rule of the game” dalam menghadapi Jepang. Dimana, para kalangan pesantren ini mulai mengambil manfaat atas pemerintahan militer Jepang, guna membantu untuk menyiapkan rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan.

Dengan situasi politik yang demikian, KH. Wahid Hasyim atas nama pengurus Masyumi pada 4 April 1944, mengadakan pertemuan para kiai sekeresidenan Besuki di Bondowoso. Pada pertemuan tersebut, disepakati untuk membentuk badan yang bernama Kiai Yuzei Shisatsuin yang menjadi panjang tangan Shumubu ditingkat kabupaten. Pada tahapan inilah, Kiai Harun mulai terlibat di Kiai Yuzei Shisatsuin  atas rekomendasi dari KH Wahid Hasyim.

Selain Kiai Harun, yang menjadi Kiai Yuzei Shisatsuin adalah Raden Haji Abdulchalim Shiddiq (Jember), Haji Achmad alias Muhammad (Jember), dan KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo). Untuk membekali para Kiai Yuzei Shisatsuin tersebut, Jepang melakukan serangkaian pelatihan propaganda para alim ulama. Dalam pelatihan ini, para peserta diajari berbagai materi, mulai dari sejarah dunia, sejarah Islam masuk Jawa, pidato, kekejaman bangsa barat, ilmu-ilmu teknik dan lain sebagainya.

Kiai Harun sebagai Kiai Yuzei Shisatsuin pun ikut serta dalam pelatihan tersebut. Selama 17 kali pelatihan diadakan, dari Keresiden Basuki hanya ada 55 peserta saja. Dari jumlah itu, rasio jumlah kiai dari Besuki yang ikut pelatihan itu hanya 10,8 persen saja. Tak banyak kiai yang lolos untuk mengikuti karena harus memiliki sejumlah kemampuan dasar, seperti bisa bahasa Melayu dengan baik. Dengan demikian, Kiai Harun memang Kiai pilihan di masanya.

Salah satu tugas Kiai Harun dalam mengemban tugas sebagai Kiai Yuzei Shisatsuin  adalah untuk meredam dan memberikan motivasi kepada para warga yang ditunjuk menjadi anggota Romusha. Tidak mau hanya dimanfaatkan, Kiai Harun memanfaatkan posisi dan kedekatannya dengan Jepang untuk menggali beragam informasi. Misalnya, ketika Jepang akan melakukan penangkapan terhadap para pejuang, ia segera membocorkannya. Lantas, target penangkapan para Kempetai tersebut dapat meloloskan diri.

Perjuangan di masa Jepang memang cukup berat. Kemampuan militer Jepang lebih hebat dibandingkan dengan militer Belanda. Kekajamannya juga melebihi kekejaman Kompeni. Jadi, kecil sekali peluang untuk melakukan perjuangan fisik dengan mengangkat senjata. Hanya akan mengantarkan ajal saja. Untuk itu, perjuangan politik dengan strategi tingkat tinggilah yang bisa dilakukan. Seperti halnya melakukan infiltasi kedalam pemerintahan kolonial Jepang. Sebagaimana yang dilakukan oleh Kiai Harun dan kiai-kiai lainnya.

Lain lawan, lain pula jurusnya, bukan?. (*)

Penulis adalah Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU di Banyuwangi.


Share: